Penerapan Berpikir Komputasional Melalui Penyusunan Algoritma dalam Bentuk Kalimat Deskriptif
Jurnal Pembelajaran Informatika Kelas X Fase E - Minggu ke-1 bulan Agustus
Penerapan Berpikir Komputasional Melalui Penyusunan Algoritma dalam Bentuk Kalimat Deskriptif
Studi Kasus: SMAN 1 Bojonegoro sebagai Sekolah Kawasan Tanpa Rokok (KTR)
Oleh:
Purnomo Wahyudi, S.T., Gr.
NIP. 198107142022211013
(Guru Informatika SMAN 1 Bojonegoro)
Abstrak
Pembelajaran Informatika pada elemen Berpikir Komputasional bertujuan membekali murid dengan kemampuan berpikir logis, sistematis, kritis, dan kreatif dalam menyelesaikan suatu permasalahan. Salah satu kompetensi dasar yang dikembangkan adalah kemampuan menyusun algoritma dalam bentuk kalimat deskriptif. Artikel ini mendeskripsikan pelaksanaan pembelajaran di kelas X (X-1, X-2, X-3, X-4, X-5, X-6, X-7, X-8, X-9, X-10, dan X-11) Fase E SMAN 1 Bojonegoro dengan memanfaatkan konteks nyata di lingkungan sekolah, yaitu implementasi Sekolah Kawasan Tanpa Rokok (KTR). Melalui pengamatan video edukasi, penjelasan guru, diskusi kelompok, dan penyusunan algoritma, murid mampu memahami bahwa algoritma tidak hanya digunakan dalam pemrograman komputer, tetapi juga dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Hasil pembelajaran menunjukkan meningkatnya kemampuan murid dalam berpikir komputasional, menyusun langkah-langkah secara runtut, serta mengembangkan kepedulian terhadap budaya hidup sehat di lingkungan sekolah.
Kata kunci: Informatika, Berpikir Komputasional, Algoritma, Kalimat Deskriptif, Kawasan Tanpa Rokok.
Pendahuluan
Perkembangan teknologi digital menuntut murid memiliki kemampuan berpikir komputasional (Computational Thinking) sebagai salah satu kompetensi abad ke-21. Berpikir komputasional bukan hanya kemampuan menggunakan komputer, tetapi merupakan cara berpikir logis dan sistematis untuk memecahkan masalah melalui tahapan dekomposisi, pengenalan pola, abstraksi, dan perancangan algoritma.
Dalam Kurikulum Nasional, mata pelajaran Informatika Fase E memberikan pengalaman belajar yang kontekstual sehingga murid dapat menghubungkan konsep informatika dengan kehidupan nyata. Oleh karena itu, pembelajaran dirancang menggunakan contoh yang dekat dengan kehidupan murid.
Salah satu contoh yang digunakan di SMAN 1 Bojonegoro adalah implementasi Sekolah Kawasan Tanpa Rokok (KTR). Melalui kegiatan ini murid diajak memahami bagaimana suatu aturan sekolah dapat diterjemahkan menjadi langkah-langkah sistematis layaknya sebuah algoritma.
Tujuan Pembelajaran
Setelah mengikuti pembelajaran, murid diharapkan mampu:
- Memahami konsep berpikir komputasional.
- Mengidentifikasi suatu permasalahan dalam kehidupan sehari-hari.
- Menyusun algoritma menggunakan kalimat deskriptif.
- Mengembangkan kemampuan berpikir logis dan sistematis.
- Menumbuhkan kesadaran terhadap pentingnya budaya hidup sehat melalui penerapan Kawasan Tanpa Rokok di sekolah.
Metode Pembelajaran
Model pembelajaran menggunakan Deep Learning dengan tahapan:
- Eksplorasi
- Elaborasi
- Refleksi
- Kreasi
Pendekatan yang digunakan adalah:
- Contextual Teaching and Learning (CTL)
- Problem Based Learning (PBL)
- Diskusi Kelompok
Media pembelajaran meliputi:
- Video edukasi Kawasan Tanpa Rokok.
- Presentasi guru.
- LCD Proyektor.
- Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD).
Pelaksanaan Pembelajaran
1. Kegiatan Pendahuluan
Guru membuka pembelajaran dengan mengaitkan materi terhadap kehidupan sehari-hari.
Guru mengajukan pertanyaan pemantik:
- Mengapa sekolah menerapkan Kawasan Tanpa Rokok?
- Apa yang harus dilakukan ketika melihat seseorang merokok di lingkungan sekolah?
- Apakah penyelesaian masalah tersebut dapat dibuat menjadi langkah-langkah yang sistematis?
Pertanyaan tersebut mendorong murid mulai berpikir secara logis sebelum memasuki materi algoritma.
2. Kegiatan Inti
a. Mengamati
Murid menyaksikan video mengenai implementasi Sekolah Kawasan Tanpa Rokok (KTR) di SMAN 1 Bojonegoro.
Video SMAN 1 Bojonegoro Kawasan Tanpa Rokok
Sosialisasi Dinas Kesehatan Kabupaten Bojonegoro Kawasan Tanpa Rokok dan Screening Pemeriksaan Kesehatan Gratis oleh Petugas Puskesmas
Video SMAN 1 Bojonegoro Kawasan Tanpa Rokok
Apel Pagi Deklarasi Komitmen Bersama Dalam Mewujudkan Sekolah Kawasan Tanpa Rokok
Kunjungan Tim Penilai Kemendagri RI di Sekolah
Video menampilkan:
- Sosialisasi kawasan tanpa rokok oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Bojonegoro
- Screening cek kesehatan gratis oleh puskesmas area kota Bojonegoro
- Apel pagi deklarasi komitmen sekolah kawasan tanpa rokok
- Penetapan Duta kawasan tanpa rokok
- Ikrar bersama
- Penandatangan komitmen bersama kawasan tanpa rokok
- Kunjungan Tim penilai dari Kemendagri di lingkungan sekolah
b. Menanya
Murid berdiskusi mengenai:
- Apa yang melatarbelakangi SMAN 1 Bojonegoro dipilih dan ditetapkan sebagai kawasan tanpa rokok?
- Apa masalah yang terjadi apabila terdapat pelanggaran KTR?
- Bagaimana solusi yang tepat?
- Langkah apa saja yang harus dilakukan?
c. Mengumpulkan Informasi
Guru menjelaskan bahwa penyelesaian masalah dapat disusun menjadi algoritma. Murid kemudian mengenali empat tahapan berpikir komputasional:
- Dekomposisi
- Pengenalan Pola
- Abstraksi
- Perancangan Algoritma
d. Mengasosiasi
Secara berkelompok murid menyusun algoritma dalam bentuk kalimat deskriptif berdasarkan hasil pengamatan video.
Contoh algoritma yang disusun murid:
- Pemasangan rambu Kawasan Tanpa Rokok.
- Tidak menyediakan area merokok di lingkungan sekolah.
- Larangan penjualan, promosi, dan iklan rokok di lingkungan sekolah.
- Integrasi edukasi bahaya rokok dalam kegiatan pembelajaran dan pembinaan karakter.
Melalui kegiatan tersebut murid memahami bahwa algoritma merupakan urutan langkah yang logis untuk menyelesaikan suatu masalah.
e. Mengomunikasikan
Setiap kelompok mempresentasikan hasil algoritma yang telah disusun. Kelompok lain memberikan tanggapan sehingga terjadi diskusi yang aktif dan konstruktif. Guru memberikan penguatan terhadap struktur algoritma yang baik, yaitu:
- runtut,
- logis,
- jelas,
- tidak menimbulkan penafsiran ganda.
Hasil Pembelajaran
Selama kegiatan berlangsung murid menunjukkan antusiasme yang tinggi. Mereka mampu menyusun algoritma secara sistematis berdasarkan situasi nyata di lingkungan sekolah. Diskusi kelompok juga meningkatkan kemampuan komunikasi, kolaborasi, serta berpikir kritis.
Selain memahami konsep algoritma, murid memperoleh pengalaman bahwa berpikir komputasional dapat digunakan untuk menyelesaikan berbagai persoalan dalam kehidupan sehari-hari, termasuk mendukung penerapan budaya hidup sehat melalui program Kawasan Tanpa Rokok.
Refleksi Guru
Penggunaan studi kasus yang berasal dari lingkungan sekolah terbukti membuat pembelajaran lebih bermakna. Peserta didik lebih mudah memahami konsep algoritma karena berangkat dari pengalaman yang mereka temui setiap hari.
Pembelajaran ini juga memperkuat karakter peserta didik untuk menjadi pribadi yang disiplin, bertanggung jawab, peduli terhadap kesehatan lingkungan, serta mampu berpikir secara logis dalam menyelesaikan masalah.
Kesimpulan
Pembelajaran Informatika pada materi Berpikir Komputasional melalui penyusunan algoritma dalam bentuk kalimat deskriptif dengan studi kasus Sekolah Kawasan Tanpa Rokok (KTR) di SMAN 1 Bojonegoro memberikan pengalaman belajar yang kontekstual, aktif, dan bermakna. Murid tidak hanya memahami konsep algoritma sebagai bagian dari ilmu informatika, tetapi juga mampu menerapkannya dalam kehidupan nyata. Kegiatan ini memperkuat keterampilan berpikir komputasional sekaligus menanamkan nilai kedisiplinan, kepedulian terhadap kesehatan, serta tanggung jawab sebagai warga sekolah yang mendukung terciptanya lingkungan belajar yang aman, sehat, dan bebas asap rokok.
Foto Dokumentasi: (Pembelajaran di kelas X-11)


.jpeg)
.jpeg)

